Kamis, 07 Juni 2012

Golkar Tak Kaget Jadi Teratas dalam Survei PDIP

RMOL. Hasil survei internal PDI Perjuangan menunjukkan, kalau pemilu dilakukan saat ini maka mayoritas pemuda bakal memilih Partai Golkar.  Bagi Golkar, hasil survei ini tak mengagetkan sama sekali.

"Semua survei, tiga bulan belakangan, menempatkan Golkar pada posisi teratas. Dan kami tidak kaget walau tetap menyambut hasil tersebut dengan suka cita," kata Wasekjen Partai Golkar, Tantowi Yahya kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 7/6).

PDI Perjuangan menggelar survei dengan populasi survei adalah pemuda Indonesia, yakni mereka yang berusia di bawah 30 tahun sesuai dengan UU Pemuda. Sebanyak 15,8 persen memilih Golkar kalau pemilu legislatif diadakan hari ini, lalu diusul PDI P, Gerindra dan Demokrat dengan masing-masing responden sebesar 13,9 persen, 9,9 persen dam 6,8 persen.

Menurut Tantowi, perolehan tingkat teratas tak lain karena partainya berinteraksi langsung dengan masyarakat, tak terkecuali pemuda.

"Itu hasil dari kampanye permanen yang kami lakukan, serta gerakan turun ke masyarakat di bawah payung karya kekaryaan dari pengurus partai, anggota DPR sampai ketua umum," terangnya.

Dengan hasil survei ini, aku Tantowi, partai Golkar optimis bisa menang pemilu mendatang, dengan tentunya tidak terlena oleh keadaan saat ini.


Sumber: RMOL
»»  Lihat Selengkapnya...

DPD Golkar se-Jabar Tandatangani Prasasti Dukung Yance

Langkah Dr H Irianto MS Syafiuddin (Kang Yance) menjadi kandidat gubernur Jawa Barat dari Golkar, sepertinya akan berjalan mulus. Buktinya, DPD Golkar Kota/Kabupaten se-Jabar sudah tegas menyatakan dukungannya.


SEBANYAK 26 Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Golkar Kota/Kabupaten, dan 20 Dewan Penasehat Partai Golkar se-Jawa Barat (Jabar), menggelar silaturahmi dan rapat kosultasi, di Kantor DPD Partai Golkar Jabar, belum lama ini.

Rapat konsultasi dan silaturahmi ini dipimpin Ketua DPD Partai Golkar Jabar, Dr H Irianto MS Syafiuddin (Kang Yance). Ada sekitar seratus orang pengurus DPD Partai Golkar tingkat I Jabar yang hadir. Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat untuk mendukung pencalonan Kang Yance sebagai calon Gubernur Jabar pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar, yang akan dihelat Februari 2013 mendatang.

Sebagai bentuk keseriusan untuk mendukung Kang Yance, para ketua DPD Golkar Kota/ Kabupaten, Dewan Penasehat dan pengurus DPD Partai Golkar Tingkat I Jabar, melakukan penandatanganan prasasti mendukung pencalonan mantan Bupati Indramayu sebagai calon tunggal Gubernur Jabar.

Mantan Ketua DPD Partai Golkar Jabar, H Uu Rukmana yang semula dinilai tak menyetujui Kang Yance untuk maju sebagai Jabar Satu, akhirnya mau menandatangani prasasti dukungan. Bahkan, dia dengan tegas mengatakan akan berjuang sekuat tenaga untuk kemenangan Kang Yance sebagai Gubernur Jabar.

Uu Rukmana juga meminta maaf kepada Ketua DPD Partai Golkar Jabar, Kang Yance, atas pernyataannya di sejumlah media tentang pencalonan suami Bupati Hj Anna Sophanah itu. Apa yang dilaku kannya, kata Uu, bukan melaku kan penolakan kepada Kang Yance, tetapi karena saying, makanya pencalonan segera diminta ditempuh melalui mekanisme partai.

”Saya pribadi sangat mendukung Kang Yance untuk maju sebagai cagub. Saya menilai, saat ini belum ada figur Golkar, selain Kang Yance yang layak jual di tengah masyarakat,” terang UU, yang juga Dewan Penasehat Golkar Jabar seraya mengajak seluruh pengurus Golkar mulai tingkat desa hingga DPD Jabar bersatu mendukung Kang Yance jadi Gubernur Jabar. 


Sumber: Radar Bogor
»»  Lihat Selengkapnya...

Rabu, 06 Juni 2012

Golkar optimis dulang 35 persen suara di Jabar

CIAMIS – Safari Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie ke Jawa Barat, yakni Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Banjar dan Ciamis mendapat respon positif dari masyarakat setempat.
 
Oleh karena itu, Ical optimistis Golkar akan mendulang suara sebesar 35 persen di provinsi tersebut pada Pemilu 2014 mendatang.
 


"Kalau kita lihat surveinya UNPAD sekarang Golkar nomor 1. Dari sebelumnya 25 persen jadi optimis bisa lebih tinggi lagi, 35 persen tercapai," ungkap Ical saat menggelar pertemuan dengan wartawan di rumah Bupati Ciamis, Jawa Barat, Selasa (29/5).
 
Ical juga yakin Golkar akan menang dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat. Golkar berencana mencalonkan Ketua DPD Golkar Jawa Barat H. Irianto MS Syafiudin atau akrab disapa Kang Yance.
 
"Cagub belum ditetapkan oleh Partai Golkar, tapi engga jauh-jauhlah dari Pak Yance," tegasnya.
 
Selain itu, pria yang kini memiliki singkatan nama ARB itu mengaku senang mengisi kuliah umum kepada mahasiswa di Ciamis, khususnya di Universitas Galuh.
 
"Bagus sekali karena bisa memberikan semangat ke mahasiswa. Bahwa Indonesia masih ada, Indonesia yang tetap dipercaya. Kami minta mereka tidak ikut-ikutan bersikap pesimistis. Tadi saya bilang ke mereka, kalau ada malam, jangan mengeluh tentang gelapnya malam tapi berikan pelita untuk terangi malam," jelasnya.


Sumber: WaspadaOnline
»»  Lihat Selengkapnya...

Puluhan Doktor Jebolan UPI Dukung Yance Jadi Gubernur


Santernya pencalonan Ketua DPD Partai Golkar  Jawa Barat (Jabar), Dr H Irianto MS Syafiuddin  (Kang Yance) sebagai  calon gubernur (cagub) pada pemilihan gubernur (Pilgub),  mengundang perhatian para alumnus Universitas Pendidikan kIndonesia (UPI) Bandung.  Puluhan alumnus bergelar doktor asal Kabupaten Ciamis menyambut baik munculnya nama mantan Bupati Indramayu dalam bursa pencalonan  Jabar Satu. Mereka juga menyatakan kesiapannya untuk menjdi tim relawan, guna kemenangan Kang Yance. 

Puluhan doktor jebolan universitas ternama di Kota Kembang, belum lama ini menyambut kedatangan suami Bupati Indramayu, Hj Anna Sophanah, itu dalam acara silaturahmi  dengan pengasuh Ponpes Nurul Firdaus di Dusun Panongan, Desa Kertaraharja, Kabupaten Ciamis. Perwakilan alumnus UPI Bandung di antaranya Dr Gumilar Dr Erik Kirsnayudha, Dr Wawan Arifien, Dr Any Yuliah, Dr Mustofa Kamal, Dr Momon, Dr Nana Herdiana, Dr Ade Gumilar Iskandar. Selain itu ikut hadir pula  Dr Nizar,  Dr Endjang Naffandi, Dr  Ida Heresia, Dr Widiyanti, dan Dr Jamal. Alasan mendukung Kang Yance, mereka menilai Kang Yance, salah satu kandidat calon gubernur yang memiliki visi dan misi yang jelas."Kalau kita bandingkan dengan cagub lain, Kang Yance lah yang dinilai layak memimpin Jabar Satu mendatang,"terang Dr Gumilar yang juga pendiri Pondok Pesantren Nurul Firdaus. 

Gumilar menegaskan, pihaknya sudah lama menggenal sosok Kang Yance, yaitu semasa menjadi mahasiswa S3 di UPI Bandung. Dua tahun lebih, dokter yang mempunyai ribuan santri itu mengenal Kang Yance, selain pintar dan Kang Yance itu baik dan dengan siapa pun dekat, serta tidak membeda-bedakan antara mahas iswa yang satu dengan yang lainnya.  Dalam diri Kang Yance, kata Gumelar,  beliau memiliki  jiwa kepeminpinan yang kuat serta ide-idenya yang cerdas dalam setiap memecahkan berbagai persoalan.

Konsep -konsep dan program kerjanya, putra kelahiran  Indramayu itu terarah dan selalu didasari dengan logika, serta pemikiran yang tidak asal saja.     Sosok Kang Yance, kata dia, di mata teman- teman doctor selama masa kuliahnya tak diragukan lagi kemampuannya, dan selalu yang terbaik dalam berbagai hal. Tak heran, jika Kang Yance saat itu menjadi doktor lulusan terbaik  UPI Bandung saat itu, sehingga kemamuan untuk memimpin tidak diraguan lagi."Yang jelas dengan kemampuan yang dimilikinya, beliau mampu memimpin Jabar,"terangya. 

Hal senada diungkapkan Dr Any Yuliah. Ia menuturkan, keberhasilan Kang Yance saat menjabat Bupati selama dua periode itu bebas dengan permasalahan kasus hukum atau bebas dari kasus korupsi. Hal itu yang menjadi dasar para doktor di Kabupaten Ciamis, untuk mendukung Kang Yance. Di samping itu, Kang Yance mempunyai nilai jual lebih, jika dibandingkan dengan calon gubernur lainnya.  Kang Yance, lanjut Any, memiliki karakter yang keras tapi memiliki komitmen yang kuat dalam berbagai hal, sehingga itulah yang menjadi modal dasar  untuk menghadapi masyarakat Jabar yang multi karakter. 

Kelebihan Kang Yance, tak pernah putus menjalin tali silahturahmi dengan seluruh kalangan masyarakat, tanpa membedakan kelompok atau golongan mana."Saya optimis Jabar akan maju kalau pemimpinnya mempunyai watak seperti Kang Yance,"ungkapnya. 

»»  Lihat Selengkapnya...

Tiga Ponpes Terbesar di Subang Dukung Yance


Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Dr H Irianto MS Syafiuddin (Kang Yance) terus mendapat dukungan jadi gubernur Jabar . Dukungan kali ini dari tiga pondok pesantren (ponpes) terbesar di Kabupaten Subang. Yakni, Ponpes Darussalam Desa Kasomalang Wetan dan Majelis Talim Al Muanah Desa Karanganyar, Kecamatan Kasomalang, dan Majelis Talim Desa Sukamelang, Kabupaten Subang. Mereka sepakat untuk mendukung dan sekaligus memenangkan Kang Yance pada pemilihan gubernur (Pilgub) yang akan dihelat 13 Februari 2013 mendatang,

"Kalau kita bandingkan dengan cagub lainnyan, Kang Yance lebih  lebih layak. Pengalaman menjadi Bupati Indramayu selama dua periode sebagai modal dasar untuk pimpin Jabar,"tutur Ketu Majelis Talim Sukamelan, Ustad Deden usai merima silaturahmi Kang Yance, Kamis (10/5).

Pemimpin Jabar ke depan, selain harus mempunyai pengalaman dalam memimpin di lingkungan birokrasi,  juga seorang  pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi dalam pembangunan bidang keagaman. Pembangunan keagamaan, kata Deden,  menjadi modal dasar dalam membangun di segala bidang teruitama membangun keimanan di tengah masyarakat. Sebab, keimanan yang bagus akan mendorong pada kemaslahatn umat guna mencari keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak. 
Semua itu sudah dilakukan Kang Yance saat memimpin Kota Mangga selama dua periode. Hal itu yang mendorong para pengasuh ponpes di Kota Nanas utuk mendukung Kang Yance jadi gubernur."Yang jelas kami sudah bulat mendukung Kang Yance jadi Jabar Satu,"tegas kiyai kharismatik.

Hal senada diungkapkan KH Ahmad Djuanda, pengasuh Ponpes Darussalam.  Ia menjelaskan, pihaknya menyambut baik kedatangan Kang Yance di Ponpes Darussalam. Diakui pimpina ponpes terbesar  di Kabupaten Subang, secara pribadi, ia baru saja mengenal sosok Kang Yance yang sekarang namanya sudah ramai mendapat dukungan dari para ulama se Jabar supaya maju pada Pilgub mendatang. Meski baru mengenal, dirinya bersama ribuan santri sudah sering kali mendengar nama suami dari Bupati Indramayu Hj Anna Sophanah. Terutama, lanjut KH Ahmad,  kiprahnya di bidang keagamaan, kebijakan beliau saat menjadi buipati di Kota Mangga itu sangat dirsakan oleh para ulama di sana sehingga apa yang menjadi keinginannya selalu mendapat dukungan dari para ulama.

Kebijakan beliau yang sangat menarik para ulama di Subang adalah kebijakan tentang penanaman nilai nilai Islami di kalangan para birokrasi meliputi wajib mengaji lima belas menit bagi pegawai, sebelum melakukan aktivitas. Selain itu bagi pegawai perempuan juga harus memakai kerudung. Kebijakan yang dilakukan beliu itu tergolong berani dan belum ada di kabupaten lain di Jabar. Pihaknya sangat berharap ketika beliau dipercaya memimpin di Jabar, paling tidak bisa diterapkan ditingkat yang lebih tinggi."Itu yang menjadi saya tertarik dan mendoakan supaya beliau terpilih jadi gubernur. Para ulama di Subang sudah sepakat utuk memenangkan Kang Yance jadi Jabar Satu.

»»  Lihat Selengkapnya...

KANG YANCE MEMILIKI KEISTIMEWAAN, KESADARAN LOGIKA DAN ILMIAH PADA PILIHAN CALON GUBERNUR JABAR


Betapa sulitnya mencari sosok pemimpin  dengan semakin banyaknya orang pinter di negeri ini. 
Pertimbangan yang mungkin atas penilaian dengan sudut pandang sebelah sisi. Sedang disisi lain tampak benar betapa pemimpin ideal sulit untuk didapatkan di negeri ini.

Berkenaan dengan pemilukada propinsi Jabar yang akan digelar Maret 2013 masyarakat jabar kelak  dihadapkan pada pilihan untuk menentukan gubernur Jawa Barat 2013-2018.

Sebetulnya ada beberapa aspek dan mungkin komplek menatap dari  sudut pandang apa  mengira-ngira sosok calon gubernur yang memiliki kreteria kemauan rakyat. Tentu yang diharapkan adalah yang dapat diterima oleh aspirasi dari semua kalangan. Banyak  calon yang kini disosialisasikan pada masyarakat luas, namun belum dapat dikenalkan secara utuh.

Penulis tidak berarti membela apa yang akan diketengahkan, tetapi memberikan pencerahan bahwa seorang calon memiliki keistimewaan.

Pandangan penulis adalah sepak terjang yang bersankutan sebagai calon gubernur jabar 2013-2018. Ia berangkat karena amanat masyarakat yang diarapkan untuk tampil memimpin Jawa Barat ke depan. Dasar pertama ini suatu kenyataan yang dipikul dipundaknya. Memimpin propinsi dengan georafis terdekat dengan Ibu Kota Negara.

Amanat masyarakat ini tentu  adalah atas penilaian masyarakat yakni keistimewaan yang dimiliki beliau. Yaitu kejujuran dan mampu dibidangnya (sebaai pemimpin) yang amanah.

Jawa Barat harus dipimpin oleh putra terbaik, dan putra terbaik itu dilihat dari dari semua sudut pandang dan aspirasi masyarakat banyak. DR H IRIANTO MAFUD SIDIK SYAFIUDDIN yang mendapatkan kepercayaan itu. Ia dipercaya karena senantiasa amanah sebagai pemimpin. Semoga Doktor lulusan UPI Bandung ini mau menerima kepercayaan serta amanat rakyat seluruh Jawa Barat untuk tampil sebagai calon gubernur Jawa Barat mendatang.

»»  Lihat Selengkapnya...

Selasa, 05 Juni 2012

Yance Bertekad Perbaiki Jawa Barat


Kuningan News - Memanfaatkan berbagai momentum untuk mencari perhatian dan dukungan masyarakat, terus dilakukan H Iriyanto MS Syafiuddin alias Yance. Sebagai salah seorang BalonGub Jabar, paling bisa meraih simpati dan dukungan masyarakat. Salah satunya saat dirinya menghadiri acara pelantikan Forum Silaturahmi Da’i Da’iyah (Fordisa) Kabupaten Kuningan di balai desa Ciawigebang Kuningan, Minggu (3/6).
Dalam orasinya, Yance secara berterus terang memaparkan niatannya untuk menjadi Gubernur Jawa Barat dan bertekad ingin memperbaiki Provinsi Jawa Barat. Masalah perhatian keagamaan, jangan salahkan Bupati, Gubernur ataupun Presiden.
“Yang jelas ini salah kita yang memilihnya. Untuk itu, saya sudah bertekad untuk memperbaiki Jawa Barat,” ujar Yance di hadapan para Kepala dan Guru MD se Kabupaten Kuningan.
Yance mengatakan, ketika dirinya menjadi Bupati Indramayu tahun 2000, Pemkab Indramayu mewajibkan anak sekolah sebelum belajar agar membaca alqur’an selama 15 menit.
“Saat ini kebetulan isteri saya jadi Bupati Indramayu, untuk zakat saja Pemkab mengeluarkan sebesar 18 miliar untuk masyarakat. Itu dilakukan dalam rangka memberantas kemiskinan dan kebodohan di Indramayu dan semuanya berakar pada masalah akhlak,” kata Mantan Bupati Indramayu itu menjelaskan.
Seraya berkampanye, Yance terus-terusan mengumbar cerita terkait luar biasanya perhatian Pemkab Indramayu terhadap pendidikan agama. Dia menyebutkan, saat ini untuk masalah madrasah, di Indramayu sendiri sudah dianggarkan sejumlah anggaran melalui program BOM (Bantuan Operasional Madrasah).
“Kalau saya nanti jadi Gubernur Jabar, saya gratiskan masyarakat untuk berobat selama seratus hari setelah saya dilantik, termasuk juga wajib belajar saya gratiskan selama seratus hari. Ini bukan kampanye,” janji Yance. 
»»  Lihat Selengkapnya...

Indramayu Kembali Rebut Piala Adipura

INDRAMAYU – Pemerintah Kabupaten Indramayu berhasil merebut kembali Piala Adipura yang kelima kalinya tahun ini. Raihan piala itu didapatkan dalam kategori Kota Kecil. 

Selain Piala Adipura,Pemkab Indramayu juga memboyong Piala Adiwiyata Mandiri yang berhasil diraih SMKN 1 dan Piala Adiwiyata Nasional yang diraih SMAN Krangkeng dan SMPN Unggulan Sindang. Rencananya, penyerahan piala akan dilakukan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Bupati Indramayu Anna Sophanah di Istana Negara, Selasa (5/6), hari ini.

Sementara untuk Piala Adiwiyata akan diserahkan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Prof Dr Balthasar Kambuaya MBA di Hotel Sahid Jaya. Bupati Indramayu Anna Sophanah mengatakan, penghargaan ini merupakan upaya perjuangan yang sungguhsungguh dan kerja keras dari semua pihak. Ini terlihat dari lepasnya Piala Adipura tahun lalu dan berhasil kembali direbut sekarang. Dia berterima kasih kepada seluruh pihak yang bekerja keras untuk bersama-sama menciptakan kebersihan dan kenyamanan di Kabupaten Indramayu.

Termasuk “pasukan kuning” dan para pedagang kaki lima yang telah dengan nyata mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan hijau di Kota Indramayu serta seluruh masyarakat yang ikut mendukung. “Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya juga kami sampaikan kepada rekanrekan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah,anggota Dewan, alim ulama,tokoh masyarakat, pemuda, LSM, partai politik, dan seluruh stakeholder serta tukang sapu dan pedagang kaki lima,”kata Bupati.

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga mengungkapkan, prestasi yang diraih ini merupakan semangat semua pihak untuk senantiasa mencintai lingkungan, menjaga, dan memeliharanya.“ Prestasi ini merupakan bukti nyata dari perjuangan dan dedikasi semua pihak,”ungkapnya. Sementara itu,Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu Joko Hartawan mengatakan, diraihnya Piala Adipura 2012 tidak terlepas dari peran “pasukan kuning” dalam hal ini petugas kebersihan serta pedagang kaki lima yang selalu menjaga keindahan dan kebersihan kota.

Sumber: seputar-indonesia.com
»»  Lihat Selengkapnya...

Jumat, 01 Juni 2012

Kader Golkar Kota Banjar Harus Dukung Ical-Yance

INILAH.COM, Banjar - Walikota Banjar yang juga ketua DPD Golkar kota Banjar, H Herman Sutrisno meminta kader-kader golkar Kota Banjar mendukung pencalonan Ketua Umum DPP Partai Golkar Ir Aburizal Bakrie atau Ical menjadi Presiden. Begitu juga, dengan pencalonan Irianto Ms Safiudin atau Kang Yance sebagai Gubernur Jabar.

"Saya selaku ketua DPD Golkar Kota Banjar, meminta kepada semua kader di Kota Banjar agar mendukung Pak Ical jadi Presiden RI. Selain pak Ical, kita juga harus mendukung Kang Yance yang akan mencalonkan menjadi Gubernur Jawa Barat," ujar Herman dalam sambutan di gedung DPD Golkar Kota Banjar, Selasa (29/5/2012).

Herman pun menyebutkan, dukungan dari kader-kader golkar bisa dilakukan melalui materi atau pun tenaga.

Sebelumnya, Ical bersama rombongan menyambangi pedagang kuliner doboku, pengrajin batik, kelompok wanita tani, Hima PAUD, dan perajin bata merah.

"Sekitar 1000 massa dari para pelaku UKM bertatap muka dan berdialog dengan Pak Ical. Pada kesempatan itu, beliau langsung melihat hasil produksi dari masing-masing UKM yang hadir. Mulai dari produk makanan olahan pertanian dari KWT, proses pembuatan batik tulis khas Banjar hingga pembuatan bata merah," tambah Wakil Ketua I DPD Golkar Kota Banjar, Kusnadi.

Aburizal Bakrie pun bertemu sekitar 50 orang ahli waris dari program kartu anggota partai Golkar berasuransi. "Program KTA berasuransi ini berjalan berkat anggota DPR RI dari fraksi Golkar, Agun Gundandjar Sudarsa. Klaim asuransi yang telah terbayar hingga kini di Banjar sebanyak empat puluh empat orang," ungkapnya.

Ical pun menyerahkan bantuan dua unit komputer berserta printer ke SMP Al Maarif dan bantuan ternak sapi sebanyak 24 ekor kepada Gapoktan Banyu Metu Sejahtera (BMS).

Dari pantauan INILAH.COM, Ketua Umum DPP Partai Golkar Ir Aburizal Bakrie alias Ical meninggalkan Kota Banjar menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat Helikopter dari lapangan bakti Kota Banjar. Dari gedung golkar Ical bersama rombongan menuju lapangan dengan menaiki Becak dan Delman.


Sumber: Inilah.com
»»  Lihat Selengkapnya...

Yance Bawa Kebijakan Sewaktu Bupati untuk Jabar


SOREANG, (PRLM).- Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jabar, H. Iryanto “Yance” Syaifuddin mengatakan, akan menerapkan kebijakan-kebijakannya yang sudah dilaksanakan di Indramayu sewaktu menjadi bupati. Kebijakan-kebijakan itu dinilai Yance membumi dan sesuai dengan kondisi Jawa Barat yang agamis.
“Sebagian orang masih tabu dengan kata syariat Islam, padahal kalau kita laksanakan dengan baik akan berdampak luas kepada masyarakat,” kata Yance saat hadir dalam silaturahmi dan pembentukan Forum Silaturahmi Daerah (Forsida) Jabar di Hotel Antik Soreang, Kamis (31/5/12).
Lebih jauh Yance mengatakan, program-program di Kab. Indramayu yang dianggap berhasil di antaranya kewajiban mengikuti Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). “Setiap siswa SD dan SMP yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus mengantongi ijazah MDT. Pemerintah juga memberikan bantuan operasional MDT dan bantuan honor bagi ustaz-ustaz,” katanya.
Selain itu, Pemkab Indramayu juga memberikan honorarium bagi imam dan muazin di masjid-masjid untuk meningkatkan kesejahteraannya. “Masalah agama bukan sebatas urusan vertikal melainkan juga harus jadi perhatian peemerintah daerah. Kalau Indramayu saja mengalokasikan bantuan keagamaan sampai Rp 70 miliar, maka di Jawa Barat harus ratusan miliar,” ujarnya.
Menurut Yance, pemerintah daerah juga harus berani untuk melarang peredaran minuman keras dan prostitusi karena Jawa Barat dikenal sebagai daerah yang tinggi kasus trafficking.
“Kalau pemerintah daerah tidak diberikan kewenangan mengatur minuman keras lebih baik bubarkan saja pemerintah daerahnya. Untuk apa kita memiliki otonomi daerah lalu semua aturan harus terpusat,” katanya.

Sumber: PRLM
»»  Lihat Selengkapnya...

Tradisi Ngarot Di Indramayu, Jawa Barat

Ngarot merupakan upacara adat sekaligus ajang mencari jodoh bagi masyarakat Lelea, Indramayu. Upacara ini selalu digelar pada bulan Desember. Setiap upacara digelar, para gadis dan pemuda berpakaian unik. Lalu berpawai mengelilingi desa. 

Akan tetapi, jangan coba-coba kaum janda /duda, gadis tak perawan atau pemuda tak perjaka ikut Ngarot. Konon ia bisa kena tulah, berupa aib yang memalukan.  Benarkah ?

Upacara Ngarot memang hanya terdapat Desa/Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu. Tradisi yang rutin digelar tiap bulan Desember ini terbilang unik. Sebagian masyarakat disana mempercayai bila Ngarot merupakan saat penting bagi para remaja untuk mendapatkan pasangan hidup. Jodoh yang didapat dari ritual Ngarot, konon sering membuat kekal pasangan suami istri. Tak heran bila setiap upacara ini digelar, banyak pemuda dan pemudi turut serta. Dan sebagian peserta selalu pulang dengan wa¬jah cerah dan hati berbunga-bunga. 


Asal Mula Ngarot

Pada mulanya, upacara Ngarot dirintis oleh kuwu (kepala desa) pertama Lelea yang bernama Canggara Wirena, tahun 1686. Awalnya, upacara tersebut bukan diperuntukkan sebagai "pesta mencari jodoh" seperti yang terjadi sekarang. Ngarot yang menurut bahasa Sunda berarti minum, merupakan arena pesta minum-minum dan makan-makan di kantor desa sebelum para petani mengawali menggarap sawah. Tradisi itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bercocok tanam.

Kuwu Canggara Wirena sengaja mengadakan pesta Ngarot sebagai ungkapan rasa syukur kepa¬da tetua kampung bernama Ki Buyut Kapol, yang telah rela memberikan sebidang sawah seluas 26.100 m2. Sawah tersebut digunakan para petani untuk berlatih cara mengolah padi yang baik. Demikian pula bagi kaum wanitanya, sawah digunakan sebagai tempat belajar bekerja seperti tandur, ngarambet (menyiangi), pa¬nen padi, atau memberi konsumsi kepada para jejaka yang sedang berlatih mengolah sawah itu.

Dulu, upacara Ngarot bukanlah sarana mencari jodoh, melainkan arena pembelajaran bagi para pemuda agar pintar dalam ilmu pertanian. Akan tetapi perkembangannya, upacara Ngarot berkembang menjadi ajang mencari jodoh atau pasangan hidup.

Dihindari Janda-Duda 

Sejak dulu, upacara yang hanya boleh diikuti para perjaka dan perawan. Upacara dimulai jam 8.30 dengan berkumpulnya para muda-mudi berpakaian warna warni di hala¬man rumah Kuwu. Mereka dengan wajah penuh keceriaan berduyun-duyun menuju ha¬laman rumah Pak Kuwu. Pakaian mereka indah-indah, dilengkapi aksesoris gemerlap, seperti kalung, gelang, giwang, bros, peniti emas, dan hiasan rambut. Untuk memikat hati para jejaki, para gadis selalu mengenakan ka¬camata dan kepalanya penuh di¬taburi bunga warna-warni seperti kenanga, melati, mawar dan kantil.

Upacara Ngarot ditandai dengan pawai arak-arakan sejumlah gadis dan perjaka desa. Para gadis berbusana kebaya yang didominasi warna merah, berkain batik, berselendang, dan rambut kepala dihias rangkaian bunga. Mereka lantas berjalan mengelilingi kampung. Sementara para jejaka tingting mengenakan baju pangsi warna kuning dan celana gombrang war¬na hitam, lengkap dengan ikat kepala, mengikuti di barisan belakang. 

Seusai pesta pawai, semua peserta Ngarot masuk aula balai desa. Sambil duduk berhadap-hada¬an dan ditonton orang banyak, mereka dihibur dengan seni tradi¬sional tari Ronggeng Ketuk yang dimainkan penari wanita degan pasangan pria. Menurut warga, seni Ronggeng Ketuk dimaksudkan untuk ngabibita (menggoda) agar para jejaka dan gadis saling bepan¬dang-pandangan, untuk selanjutnya saling jatuh cinta. 

Ketika para jejaka dan perawan bergembira ria, tidak halnya dengan kaum janda, duda dan remaja yang kehilangan keperawanan dan keperjakaannya. Pesta Ngarot merupakan upacara yang paling dihindari. Sebab bila mereka coba-coba menjadi peserta, bukan hanya aib yang bakal diterima, tapi juga malapetaka. Konon, jika seorang gadis tak perawan nekat mengikuti pawai arak-arakan Ngarot, maka bunga melati yang terselip di rambutnya, dengan sendirinya akan layu. Bila hal itu terjadi, maka si gadis akan mendapat aib karena sudah kehilangan kehormatan diri. 

Tuah negatif untuk kaum janda berlaku pada saat berlangsung acara pokok Ngarot. Yakni ketika acara saling tatap mata dengan para jejaka. Wajah janda atau gadis tapi sudah tak perawan, meskipun sebelumnya berwajah cantik, tiba-tiba menjadi buruk rupa. Otomatis ia tidak akan mendapatkan pasangan. Bahkan yang lebih menakutkan, jika janda dan gadis tak perawan tadi nekat mengikuti upacara Ngarot, ia tak akan mendapat jodoh seumur hidup. Bagi kaum duda dan pemuda tak perjaka pun berlaku hal serupa. 

Menurut warga di sana, sejak tahun 1990-an hingga sekarang, hampir 80 persen peserta Ngarot berhasil mendapatkan pasangan hidup menjalin rumah tangga dengan rukun. Namun belakangan, peserta Ngarot mulai menyusut. Anak remaja di Desa Lelea, kini sudah mulai enggan mengikuti pawai Ngarot. Entah apa penyebabnya. Akan tetapi, jika ingin mendapatkan jodoh yang masih “asli”, orang-orang tua di Indramayu menyarankan agar memilih peserta Ngarot.
»»  Lihat Selengkapnya...

Kamis, 31 Mei 2012

DPP Golkar Terjunkan Tim untuk Menangkan Pilkada Jabar

RMOL. Untuk memenangkan pemilihan presiden dan legislatif pada tahun 2014 serta berbagai pilkada, DPP Golkar sudah menyiapkan tim sukses pemenangan untuk turun langsung ke lapangan. 

Para fungsionaris partai, yang ditunjuk langsung DPP ini bertugas menyaring pemilih serta potensi yang ada didaerah masing-masing.

"Fungsionaris ini ada sekitar 182 orang yang ditempatkan di daerah, tugas suksesi di daerah untuk memberikan sosialisasi dan potensi pemilih. Dimana ini  merupakan penugasan dari DPP yang langsung ditandatangani Ketum," ungkap Ketua DPD Golkar Irianto MS Syafiudin (Yance) kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 31/5).

Yance, panggilan akrab Irianto, pun mengatakan bahwa tim ini juga akan mendukung penuh pencalonan dirinya dalam Pilkada Jabar 2103 mendatang.

Sementara itu, menurut salah seorang fungsionaris yang ikut ditunjuk DPP Golkar, Ali Hasan mengatakan jika suksesi sudah dilakukan sejak Yance menjabat Ketua DPD Golkar Jabar dan siap maju dalam Pilgub.

"Dengan ditunjuknya para fungsionaris, akan mensolidkan partai ini untuk meraih kemenangan," papar Ali Hasan.


Sumber: RMOL
»»  Lihat Selengkapnya...

Pidato Habibie yang Memukau di Hari Lahir Pancasila, Refleksi Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2011

JAKARTA, (Tubas) – Mantan Presiden BJ Habibie memberikan pidato yang memukau mengenai penyebab nilai-nilai Pancasila yang seolah-olah diabaikan pasca era reformasi. Tak heran bila pidato yang disampaikannya secara berapi-api itu memukau para hadirin pada acara puncak peringatan Hari Lahir Pancasila. Acara tersebut dihadiri oleh Presiden Kelima Megawati dan Presiden SBY. Mereka berpidato bergiliran.
Berikut ini teks pidato lengkap Habibie yang disampaikan dalam acara yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2011).

Assalamu’alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.
Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.
Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.
Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?
Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.
Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?
Para hadirin yang berbahagia,
Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:
(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;
(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);
(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.
Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.
Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.
Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “tidak Pancasilais” atau “anti Pancasila” . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.
Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!
Para hadirin yang berbahagia,
Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.
Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.
Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.
Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.
Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi’ sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.
Para hadirin yang berbahagia,
Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?
Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”.
Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan’ lagi dalam kehidupan kita.
Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.
Para hadirin yang saya hormati,
Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.
Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.
Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.
Wassalamu ‘alaikum wr wb.

»»  Lihat Selengkapnya...

Silaturahmi Ical dengan Pengurus Golkar-Kader Harus Dengarkan Rakyat

CIAMIS – Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) meminta kader partainya untuk menjadi konsultan dan jembatan aspirasi bagi rakyat di desa-desa. Permintaan itu selalu ditekankannya saat melakukan safari ke Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar, Jawa Barat. 

“Tahun 2012 sebagai tahun karya kekaryaan, esensinya memperhatikan masyarakat dan orang-orang sakit, orangorang miskin. Di Tasik, di Ciamis, di situ banyak pertanyaan, di situlah fungsi partai jadi jembatan mendengarkan aspirasi masyarakat. Kalau kita menangani itu, percayalah banyak yang mencintai Partai Golkar,” kata Aburizal di sela acara safari politiknya di Ciamis,kemarin.

Hadir mendampingi Ketua Umum Aburizal Bakrie, yakni Ketua DPP Korwil Jawa 1 Ade Komarudin,Ketua Bidang Organisasi dan Daerah Mahyudin, Rizal Mallarangeng,Ketua Komisi II DPR dari dapil Tasikmalaya dan Ciamis Agun Gunandjar Sudarsa,dan Ketua DPD Golkar Jabar Irianto Syafiudin.

Ical saat memberikan sambutan di hadapan pengurus dan kader dari Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar, juga mengatakan bahwa Partai Golkar sebagai anggota koalisi berkewajiban mendukung kebijakan pemerintah.Karena itu,Golkar juga harus bisa menyukseskan program pemerintah yang di dalamnya ada kader Golkar yang menjabat di kabinet. “Tidak perlu takut sama baju putih,ada juga yang baju biru.

Kenapa kuning nggak bisa? Jadi jangan malu-malu, kita berpihak untuk kepentingan rakyat.Partai adalah salah satu alat untuk memajukan kepentingan rakyat,”ujarnya. Ical menekankan daerah Jabar khususnya Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar harus menjadi basis suara partai. Khusus untuk Ciamis yang bupatinya orang Golkar, juga harus bisa bekerja lebih keras dan harus bisa memenangkan Pemilu 2014 nanti.

Ical menambahkan, program partai itu jangan hanya bicara DPR,bupati,wali kota,DPRD, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Program partai harus dimaknai menjadi jembatan antara perbankan dengan nelayan dan petani. “Itu tugas partai, partai membantu. Dengan membantu, dia dikenal. Itu kita arahkan ke sana,”tandasnya.

Sementara itu, politikus Partai Golkar Agun Gunanjar Sudarsa mengatakan bahwa agenda Aburizal di dapilnya antara lain silaturahmi dengan jajaran pengurus partai sedapil Jabar X dan XI di Kantor DPD Golkar Ciamis,kemudian kuliah umum Aburizal di Universitas Galuh,silaturahmi dengan alim ulama di PCNU Ciamis, meninjau situs cagar budaya, dan silaturahmi dengan perajin bata merah dan batik.

”Ini bagian dari langkah Pak Aburizal selaku tokoh nasional yang sekaligus Ketua Umum Golkar, yang dalam waktu dekat ini akan dikukuhkan sebagai capres satu-satunya Partai Golkar,”katanya. Agun mengungkapkan, roadshow Ical di Jabar, khususnya di dapil Jabar X dan XI, mendapatkan respons antusias dari masyarakat.Kegiatan semacam itu akan terus dilakukan juga di daerah lain. “Di Jabar ini, kita lihat sendiri bagaimana respons publik sangat antusias,”ungkapnya.
»»  Lihat Selengkapnya...